Pengembangan
model e-learning merupakan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Dalam hal
ini Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam
e-learning, yaitu: (1) E-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu
memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan,
dan sharing pembelajaran dan informasi. Persyaratan ini sangat penting sehingga
dikatakan sebagai persyaratan absolut. (2) e-learning dikirimkan kepada
pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. CD
ROM, Web TV, Web Cell Phones, Pagers, dan alat bantu digital personal lainnya
walaupun bisa menyiapkan pesan pembelajaran tetapi tidak bisa digolongkan
sebagai e-learning. (3) e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang
paling luas, solusi pembelajaran yang mengungguli paradigma tradisional dalam
pelatihan.
Dalam
pengembangan model e-learning perlu rancangan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang diinginkan, khususnya dalam penggunaan internet. Menurut Haughey (Anwas,
2000) ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis
internet, yaitu web course, web centric course, dan web enhanced course. Web
course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta
didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka.
Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan
kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disamapaikan melalui internet. Dengan
kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.
Pengembangan e-learning tidak
semata-mata hanya menyajikan meteri pelajaran secara online saja,
namun harus komunikatif dan menarik. Materi pelajaran didesain seolah peserta
didik belajar dihadapan pengajar melalui layar komputer yang dihubungkan
melalui jaringan internet. Secara ringkas, e-learning perlu
diciptakan seolah-olah peserta didik belajar secara konvensional, hanya saja
dipindahkan ke dalam sistem digital melalui internet. Oleh karena itu e-learning perlu
mengadaptasi unsur-unsur yang biasa dilakukan dalam sistem pembelajaran
konvensional. Misalnya dimulai dari perumusan tujuan yang operasional dan dapat
diukur, ada apersepsi atau pre test, membangkitkan motivasi,
menggunakan bahasa yang komunikatif, uraian materi yang jelas, contoh-contoh
kongkrit, problem solving, tanya jawab, diskusi, post test,
sampai penugasan dan kegiatan tindak lanjutnya.
Proses
Pengembangan E-learning
Untuk mengembangkan program
e-learning ada beberapa tahapan, dimulai dengan:
1.
Analisis Kebutuhan Tujuan yang diharapkan dicapai oleh suatu lembaga atau
organisasi. Contoh: Dosen menerapkan teknologi e-learning. Pada akhir semester
prestasi mahasiswa kurang menggembirakan sehingga pimpinan mengambil keputusan
bahwa e-learning diganti dengan tatap muka karena e-learning tidak cocok dengan
gaya belajar mahasiswa yang bersangkutan. Padahal apabila dianalisis, mahasiswa
sangat antusias. Pada kasus ini problem bukan terletak dari pada motivasi
menurun atau e-learning kurang tepat, tetapi karena program e-learning tidak
terakses disebabkan padatnya jaringan.
2. Mendeskripsikan tingkat kinerja/kompetensi
yang ingin dicapai Deskripsi ini diperlukan untuk menetapkan materi
pembelajaran, yang harus dipelajari sehingga dipersiapkan dengan baik. Langkah
ini berarti memilih materi serta pengalaman belajar yang sesuai untuk mendukung
pencapaian kompetensi.
3. Menetapkan
metode dan media pembelajaran Berbagai metode serta media yang biasa digunakan
dikelas tatap muka kemungkinan dapat diterapkan juga pada kelas online.
4.
Menentukan jenis evaluasi untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran Untuk
mengukur keberhasilan pembelajaran, evaluasi berupa balikan atau revisi
tugas-tugas. Oleh karena itu pendekatan e-learning berupa pembelajaran mandiri,
maka pembelajar harus mengevaluasi diri sendiri sehingga mengetahui tingkat
keberhasilannya.
Penerapan E-learning
dalam pembelajaran kimia
salah satunya bisa dengan menggunakan blog. Blog dapat menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya ilmu pengetahuan sehingga dapat menjawab
tantangan perkembangan globalisasi. Bukan berarti blog menggantikan model belajar konvensional di kelas tetapi blog sebagai media pembelajaran dapat
memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan dan pengembangan teknologi
pendidikan khususnya teknologi internet Media pembelajaran yang memanfaatkan blog ini dapat diakses kapan saja dengan
biaya yang relatif murah, disamping
itu juga dapat mengurangi pemborosan penggunaan kertas..
Materi
senyawa aromatik cocok disajikan dengan menggunakan media blog karena dalam materi ini tidak membutuhkan perhitungan yang
rumit sehingga siswa dapat belajar mandiri. Dalam uji coba terbatas, peneliti
memberikan media pembelajaran blog ini pada siswa kelas X yang belum memperoleh
materi Alkana, Alkena, dan Alkuna sehingga diperoleh data hasil belajar siswa
dari pengembangan media pembelajaran blog
ini.
selamat malam Ester, Saya hanya ingin menambahkan sedikit dari postingan saudari yaitu Penerapan e-learning banyak variasinya, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat. Surjono (2007), menekankan penerapan e-learning pada pembelajaran secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu. Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan pembelajaran yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah dengan forum komunikasi melalui e-mail dan atau mailing list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran berbasis web yang ada di internet.
BalasHapusTerimakasih atas tambahan jawabannya saudari Siti Mardhiyah
Hapussaya ingin menambahkan mengenai kelebihan dan kekurangan dari E-learning :
BalasHapusKelebihan e-Learning Dalam bentuk beragam, e-Learning menawarkan sejumlah besar keuntungan yang tidak ternilai untuk pengajar dan pelajar. Pengalaman pribadi dalam belajar : pilihan untuk mandiri dalam belajar menjadikan siswa untuk berusaha melangkah maju, memilih sendiri peralatan yang digunakan untuk penyampaian belajar mengajar, mengumpulkan bahan-bahan sesuai dengan kebutuhan. Mengurangi biaya : lembaga penyelenggara e-Learning dapat mengurangi bahkan menghilangkan biaya perjalanan untuk pelatihan, menghilangkan biaya pembangunan sebuah kelas dan mengurangi waktu yang dihabiskan oleh pelajar untuk pergi ke sekolah. Mudah dicapai: pemakai dapat dengan mudah menggunakan aplikasi e-Learning dimanapun juga selama mereka terhubung ke internet. e-Learning dapat dicapai oleh para pemakai dan para pelajar tanpa dibatasi oleh jarak, tempat dan waktu. Kemampuan bertanggung jawab : Kenaikan tingkat, pengujian, penilaian, dan pengesahan dapat diikuti secara otomatis sehingga semua peserta (pelajar, pengembang dan pemilik) dapat bertanggung jawab terhadap kewajiban mereka masing- masing di dalam proses belajar mengajar.
Kekurangan e-Learning Beberapa kekurangan yang dimiliki oleh pemanfaatan e-Learning: Kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar atau bahkan antar pelajar itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar mengajar.Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial. Proses belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan. Berubahnya peran pengajar dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (Information, Communication and Technology). Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet ( mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer). Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan tentang internet. Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
Terimakasih atas tambahan jawabannya saudari Ismi Hasanah
Hapusterima kasih kembali semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca.
HapusSaya ingin bertanya kepada saudari ester, ada tidak kekurangan atau dampak nya ketika kita menggunakan elearning untuk pembelajaran? Terimakasih
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab pertanyaan saudari lilis. menurut saya E-Learning memiliki kekurangan ketika kita menggunakannya untuk pembelajaran.
Hapusa. Kurangnya interaksi antara pengajar dan siswa atau bahkan antara siswa itu sendiri, bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar mengajar.
b. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong aspek bisnis atau komersial.
c. Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan.
d. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini dituntut untuk menguasai teknik pembelajaran dengan menggunakan ICT (Information Communication Technology).
e. Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
f. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, dan komputer).
g. Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal internet.
h. Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
selebihnya dapat mengunjungi laman http://www.tintaguru.com/2014/10/kelebihan-dan-kekurangan-e-learning.html
Baiklah saya akan menjawab pertanyaan dari saudari Lilisadapun dampak menggunakan elearning untuk pembelajaran adalah
HapusBagi Pengajar
Dengan berkembangnya metode pembelajaran E-Learning, para pengajar menjadi kurang memperhatikan siswanya karena materi yang diajarkan sudah ada di E-Learning. Dengan kata lain para pengajar akan mengurangi perannya sebagai pendidik siswanya, sehingga nilai moral yang ditanamkan akan berkurang dan nilai persaingan akan meningkat.
Bagi Siswa
E-Learning memang dapat membantu para siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan. Disisi lain, kualitas tugas yang diberikan akan berkurang karena lebih banyak dihasilkan dari copy-paste materi yang ada sebelumnya. Selain itu juga, bagi siswa yang kurang termotivasi akan malas membuka materi E-Learning yang sudah diberikan oleh pengajarnya, sehingga mereka akan jauh tertinggal materi pelajaran.
Terimakasih.
saya ingin menambahkan sedikit
BalasHapusPada tahap pengembangan (develop) langkah- langkah yang dilakukan adalah: (1) konsultasi dengan pembimbing yang bertujuan untuk merancang dan menyusun media dan instrumen yang akan dipakai dalam penelitian, (2) validasi yang merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data tentang nilai yang diperoleh dari validator, (3) analisis hasil validasi, hasil validasi dianalisis sesuai dengan penilaian, saran, dan kritik dari validator, (4) revisi bahan ajar berbasis e-learning yang bertujuan untuk menyempurnakan bahan ajar yang akan digunakan, dan (5) uji coba terbatas, tujuan uji coba ini hanya untuk mengetahui kelayakan dari produk pengembangan yakni bahan ajar berbasis e-learning. Tahap keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) merupakan tahap penggunaan bahan ajar yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tahap ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar berbasis e-learning hasil pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahap penyebarluasan (disseminate) tidak dilakukan karena pertimbangan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Selain itu, disesuaikan dengan tujuan pengembangan bahan ajar berbasis e-learning yakni untuk mengetahui kelayakan bahan ajar bukan untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Terimakasih atas tambahan jawabannya saudari lukita semoga bermanfaat.
HapusApa kelebihan dari media e-learning?
BalasHapusSaya akan menjawab pertanyaan dari saudari lutvia bahwa kelebihan dari media e-learning:
Hapusa. Tersedianya fasilitas e-moderating dimana pengajar dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara reguler atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.
b. Pengajar dan siswa dapat menggunakan bahan ajar yang terstruktur dan terjadwal melalui internet.
c. Siswa dapat belajar (me-review) bahan ajar setiap saat dan dimana saja apabila diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.
d. Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet.
f. Baik pengajar maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak.
g. Berubahnya peran siswa dari yang pasif menjadi aktif.
h. Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari Perguruan Tinggi atau sekolah konvensional dapat mengaksesnya.
Saya ingin menambahkan mengenai kendala dalam e-learning
BalasHapusKendala dari peserta didik yang belum dapat mengoperasikan komputer begitu juga halnya pendidik. Kita tidak bisa pungkiri pada daerah daerah tertentu E learning tidak dapat diterpkan karena tidak semua daerah memiliki pembelajaran tentang E learning. Penggunaan E learning tidak dapat terapkan karena memang peserta didik yang belum mengetahui dan menguasai bagaimana mengoperasikan E learning tersebut. Sebagian pendidik juga ada yang tidak dapat menggunakan E learning karena memang mereka tidak mendapatkan pembelajaran tersebut saat menjalani studi. Seorang guru olah raga misalnya pada saat studi mereka tidak diajarkan bagaimana menggunakan E learning secara spesifik sehingga apabila diterapkam dalam pembelajaran olah raga, guru tersebut bingun dan pembelajaran tidak dapat efektif karena tidak memiliki keahlian tersebut.